03:14 pm:
Pria itu menyilangkan tangannya. Nampak beberapa cincin perak bergaya gothic melingkari jari-jarinya.
“Jadi, aku ingin melihat wajahmu.” Senna tertunduk malu.
“Sayangnya, aku tak suka wanita yang menguntitku diam-diam,” ujarnya cepat.
Ia berbalik pergi.
Senna serasa ingin menangis menahan malu. Tapi ia berusaha menguatkan hatinya.
“Tunggu…!” teriak Senna keras.
Pria itu berhenti melangkah.
“Boleh kutahu namamu?”
“Aku tak pernah mengumbar namaku pada wanita asing tak sopan macam kamu.”
“Aku Senna.”
Pria dengan mata indah itu berbalik menghadap Senna. “Gackt.”
“Hanya itu?” pancing Senna.
“Gackt Camui.”
-
Senna berdiri di depan sebuah klab malam di pusat kota. Dari luar, klab itu terang benderang, menarik minat para penikmat hiburan malam untuk masuk ke dalamnya. Senna mendekati meja penjaga pintu. Penjaga pintu itu bertubuh besar, tegap, dan nampak sangar. Tapi, pakaiannya begitu elegan, jas hitam dengan dasi putih.
“Aku ingin bertemu dengan Dr. Hyde,” ujar Senna.
“Sudah ada janji?”
“Ya, atas nama Senna.”
“Tunggu sebentar.” Penjaga itu menelepon Dr. Hyde. Tak lama, Senna diantarkan ke ruangan pribadi Dr. Hyde, seorang ilmuwan muda hebat yang juga raja judi. Ia pemilik klab malam eksklusif itu.
“Hyde…”
“Hey, Senna…apa kabar?” sapa Dr. Hyde ramah. Ia bertubuh kurus, tinggi, rambutnya hitam kepirangan dan disisir rapi ke belakang. Ia selalu mengenakan kacamata berlensa abu-abu.
“Hyde, aku butuh informasi menenai Gackt Camui.”
Dr. Hyde memicingkan matanya.
“Kau adalah orang yang paling mengenal orang-orang misterius di kota ini. Beritahu aku, tolonglah,” pinta Senna.
“Baiklah.”
Dr. Hyde berdehem.
“Gackt Camui adalah seorang rocker hebat di Jepang, bahkan di seluruh dunia. Tapi itu dulu, dua belas tahun lalu. Kini ia hanya seorang pelatih acrobat.”
“Pantas saja pundaknya begitu kokoh dan mempesona. Tapi, kenapa bisa begitu sedih nasibnya?”
“Ia frustasi, karena ketnrannya dalam dunia musik rock tidak sejalan dengan kehidupan pribadinya. Kehidupannya begitu berantakan. Dengan seorang partner kerjanya yang gay dan seorang robot haus darah bernama Mana, Gackt Camui diterpa segala macam berita miring yang memaksanya untuk mundur dari dunia itu.”
“Tragis…”
“Ya…sangat tragis,” ucap Dr. Hyde membenarkan.
“Hyde, bagaimana kau bisa tahu semua itu tanpa harus melihat file komputermu?”
“Gackt Camui…teman lama.”
“Benarkah? Bisakah kau pertemukan aku dengannya?”
“Kalau kau mau.”
-
“Maaf Senna, ini satu-satunya caraku untuk mempertemukanmu dengan Gackt. Jangan katakana padanya bahwa aku yang membawamu kemari.”
Suara mobil menggerung meninggalkan Senna dalam kegelapan. Matanya ditutup kain dan tangannya diikat tali. Senna betul-betul bingung dan ketakutan. Tega-teganya Dr. Hyde meninggalkannya di tempat semacam ini sendirian. Senna mulai menjerit-jerit minta tolong.
“Siapa saja…tolong aku!!! Tolong…!”
Ia berusaha untuk membuka tali yang mengikat erat tangannya, tapi, justru ia terjatuh. Air mata Senna mulai jatuh. Sesenggukan ia dalam sunyinya malam.
“Hyde…kau sungguh kejam. Kau brengs…” gumamannya terputus ketika terdengar olehnya suara pintu terbuka dan langkah kaki mendekatinya.
Perlahan tali pengikat tangan Senna mulai dilepas. Kemudian kain penutup matanya dilepas. Dirangkulnya bahu Senna agar ia berdiri, dan ketika Senna menatap malaikat penolongnya, ia terkejut.
“Gackt…!!”
“Jangan takut, Senna…” ujar Gackt sambil merengkuh tubuh senna dalam pelukannya.
Senna merasa amat nyaman. Ia bisa merasakan tubuhnya dilindungi oleh sepasang tangan yang dibentengi dua pundak kokoh idamannya. Ia memejamkan mata dan membisikkan terimakasih.
-
“Bagaimana kau bisa muncul di depan gymnasium dengan keadaan menyedihkan?” Tanya Gackt sambil menyodorkan sekaleng koocha hangat. Mereka berdua duduk di taman.
“Ketika aku pulang setelah mengikutimu tadi sore, aku bertemu dengan orang asing yang katanya mengenal dirimu. Ia berjanji padaku akan menunjukkan di mana kau berada asal aku mau memberinya sejumlah uang. Benar juga aku bertemu denganmu, tapi segala kartu kredit, uang tunai, handphone, dan tasku lenyap,” ujar Senna mengarang cerita.
“Hmm…mungkin dia salah satu muridku di gym ini.”
“Ya…mungkin juga.”
-
“Halo Hyde, ini Senna, aku mau mengucapkan terimakasih.”
“Sama-sama. Bagaimana keadaan Gackt?”
“Ia baik. Betul-betul baik. Aku merasa bahwa ia seorang pria yang memiliki hati selembut awan. Aku sungguh mengaguminya, Hyde.”
“Gackt memang patut dikagumi. Malam ini aku akan naik kereta ke Paris. Mungkin akan menetap di sana. Jaga dirimu baik-baik, Senna.”
“Kenapa begitu tiba-tiba?”
“Patah hati-lah yang membuatku begini. Kenangan masa lalu sangat sulit dihapus, Senna. Lebih baik pergi dari semua itu.”
“Apa kekasihmu meninggalkanmu?”
“Ya, sejak lama.”
“Lalu?”
“Kupikir tak masalah jika ia pun tak memiliki kekasih baru, tapi sekarang nampaknya ia mulai menjalani hidup barunya yang normal.”
“Apa maksudmu? Kenapa kau begitu posesif. Life goes on, Hyde. Kalau ia bisa, kau pun juga harus bisa.”
“Orang sepertilku wajar jika posesif. Di lingkungan seperti ini, masyarakat sulit menerima seorang gay. Jadi, ada perasaan kalau aku tak bisa memilikinya, maka orang lain pun tak boleh memiliki.”
“Hyde…”
“Tapi aku tak bisa mencegahnya. Aku terlalu mencintainya. Aku mengalah. Atau mungkin aku memang kalah…”
Tut-tut-tut. Telepon terputus.
Senna menitikkan air matanya. Dr. Hyde yang malang. Sahabat Senna yang baik hati itu ternyata seorang gay, sulit dipercaya. Mengapa Hyde bisa selemah itu? Terlambat, jika Senna ingin menolong Dr. Hyde. Ia menutup telepon dan bergegas mengunjungi Gackt Camui.
-
“Jadi, sahabatmu yang gay akan pergi ke Paris hari ini naik kereta api?”
“Ya, dan aku merasa menderita karenanya. Aku belum sempat membalas budi baiknya.”
“Dulu aku juga memiliki seorang teman yang gay seperti itu,” Gackt menatap Senna dalam.
Senna mendongakkan kepalanya. Ada sinar kesedihan di mata indah Gackt.
“Tapi, entah di mana ia sekarang. Kalau aku bisa menemuinya, mungkin aku juga akan mencoba membahagiakan dirinya.”
“Gackt…”
“Hmm…?”
Senna memalingkan wajahnya dari tatapan tajam Gackt. Hatinya berdebar hebat.
“Entah mengapa aku merasa sangat menyukaimu…”
“Apa kau tak ingin bertemu dengan sahabatmu sebelum ia benar-benar pergi?”
“Kenapa kau mengalihkan pembicaraan?”
“Bagiku, persahabatan itu penting.”
“Aku tahu. Tapi jika aku melihatnya pergi aku akan menangis dan merasa sangat sedih. Perpisahan itu menyakitkan, Gackt.”
“Telepon saja, setidaknya ucapkan selamat tinggal.”
“Handphone ku kan hilang…”
Gackt merogoh sakunya dan menjulurkan sebuah handphone pada Senna.
Senna meraihnya. “Terimakasih.”
Senna memencet nomor telepon Dr. Hyde. Ia mengigit bibir bawahnya.
“Halo,” ujar suara dr. Hyde di seberang.
“Ini Senna.”
Hening…
“Hyde, selamat jal…”
Tiba-tiba Gackt merebut ponselnya. Ia berteriak kencang.
“HYDE..!! KAU DI MANA SEKARANG??”
Telepon dimatikan.
Gackt mengguncang tubuh Senna dengan hebat. “KENAPA KAU TAK BILANG KALAU TEMANMU ITU BERNAMA HYDE???!!!”
Senna melotot kaget. Mulutnya menganga. “Gackt, hentikan…”
Gackt dengan kasar menarik tangan Senna ke tempat parkir. Mereka berdua naik motor. Gackt ngebut kencang sekali.
“Kita mau… ke mana, Gackt?” Senna bertanya dengan takut-takut. Tubuhnya bergetar. Ia masih syok atas perlakuan Gackt yang sangat aneh dan begitu garang.
“Stasiun,” jawab Gackt singkat. Ia melajukan motornya semakin kencang.
Senna melonjak kaget, ia memeluk pinggang Gackt dengan erat. Merasakan sedikit ketenangan setelahnya. Gackt membiarkannya seperti itu. Ia tahu Senna memang betul-betul memiliki perasaan cinta padanya.
“Bisakah kau pelankan sedikit speed motormu, Gackt?”
“Tidak, maaf…”
Jeda beberapa detik. Hanya angin berhembus kencang menengahi kebisuan di antara mereka.
“Kenapa kau mengejarnya?”
“Aku harus menemuinya. Belum terlambat…”
“Kau mengenalnya?”
“Sangat.”
“Gackt…apa kaukah yang dimaksud Hyde…”
“Ya, memang aku. Hyde adalah kekasihku di masa lalu sekaligus partner kerja. Kami berpisah, karena sepertinya hubunganku dengannya mengacaukan segala kehidupanku dan kehidupannya.”
“Tapi itu dulu, Gackt! Mengapa bukan aku yang kau cintai? Mengapa harus Hyde?!”
“Dengar Senna! Hyde adalah masa lalu, sekarang, dan masa depanku!”
-
Gackt memelankan motornya dan memarkir motor tersebut sembarangan. Mereka telah sampai di stasiun kereta api. Gackt turun dan berlari kencang menaiki tangga. Senna kesulitan mengejarnya, langkah Gact terlalu panjang-panjang. Tubuh Senna yang mungil terengah-engah memanggil Gackt.
“Gackt!! Tunggu!!”
Gackt terus berlari. Senna mengejarnya lebih kencang, tapi malah terjatuh di tangga.
“Gackt…”
Gackt menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke belakang. Hampir saja ia memutuskan untuk meninggalkan Senna dan berlari mengejar Dr. Hyde, tapi diurungkan niatnya. Gackt tak tega melihat Senna mengerang kesakitan di tangga.
“Bangunlah, ayo! Kita harus mencegah Hyde pergi,” Gackt memapahnya berdiri lalu mengajaknya berlari.
“Gackt, aku tak bisa lari…pergelangan kakiku terkilir,” ujar Senna memelas.
Tanpa pikir panjang, Gackt menggendong Senna dan berlari sekencang mungkin, melewati tiga anak tangga sekaligus, bersyukur atas kakinya yang panjang itu.
-
Dr. Hyde baru akan melangkahkan kakinya ke dalam gerbang kereta ekspres tujuan Paris, Prancis.
“HYDE..!!!”
Dr. Hyde menoleh. Matanya melebar Ia tak jadi menapakkan kakinya ke dalam gerbong.
“Gackt…” gumam Hyde. Ia melepaskan kacamatanya yang berlensa abu-abu. Poninya jatuh menjuntai menutupi sebagian matanya.
Senna baru menyadari, bahwa mata Hyde yang selama ini selalu tertutup lenbsa abu-abu itu…memang indah. Hampir sama indahnya dengan Gackt.
Gackt menurunkan Senna dengan hati-hati dan dengan segera menyongsong Dr. Hyde dalam pelukannya. Dr. Hyde pun terisak dan memeluk Gackt dengan lebih erat.
Air mata Senna mulai bergulir. Adalah sesuatu yang salah kalau selama ini ia begitu menginginkan Gackt, karena nyata di depan matanya kali ini, Gackt Camui dan Dr. Hyde masih saling mencintai. Senna merasa sangat sakit. Lebih sakit daripada jika Gackt menolak cintanya dengan alasan lain, selain mencintai Dr. Hyde.
“Aku ikut denganmu, Hyde,” ujar Gackt mantap.
“Jangan. Kau hampir mencapai hidup normalmu. Jangan libatkan aku lagi dalam kehidupan cintamu. Aku ingin melihatmu menjadi rocker hebat sepanjang masa, dan kau bisa mendapatkannya bersama-sama Senna. Lihat, Gackt Camui, dia di sana menantimu,” Dr. Hyde menjawab sambil memperlihatkan ekspresi wajah yang…sulit dijelaskan.
Gackt memalingkan wajahnya ke arah Senna.
Jantung Senna berdegup kencang. Apakah Gackt Camui akan berpaling padanya dan pulang bersamanya, lalu mereka hidup bahagia?
Tidak.
“ Kuharap kau mengerti Senna…Aku telah menunggu selama puluhan tahun untuk menggapai cintaku yang hilang, Hyde. Kumohon jangan kau rampas kebahagiaan yang sekarang telah kutemukan.”
Senna hanya bisa terdiam dan menangis. Pupus sudah harapannya…Cintanya pada Gackt yang semakin dalam, telah dihempas oleh kata-kata yang keluar dari lelaki indah itu. Lelaki yang dikagumi Senna sepenuh hatinya.
-
Seorang petugas kereta menghampiri Dr. Hyde dan mengatakan bahwa kereta akan segera berangkat.
Dua sejoli itu melompat ke dalam kereta dengan bahagianya dan meninggalkan Senna dengan hati yang remuk tak keruan.
-
Kereta berangkat. Melaju sangat kencang. Senna menunduk dan tak ingin melihat kenyataan pahit yang baru saja terjadi. Senna tak ingin menyalahkan siapa pun juga dalam hal ini. Gackt Camui punya hak sepenuhnya untuk menentukan siapa yang akan dicintai olehnya. Dr. Hyde juga pantas mendapatkan kembali mutiaranya yang hilang setelah selama ini menderita karena mencoba melupakan Gackt. Lalu Senna…bukanlah salahnya kalau ia jatuh hati pada pandangan pertama terhadap lelaki indah bernama Gackt Camui. Tak ada yang bisa mengatur perasaan di hati seseorang.
Ini takdir. Dan Senna tahu akan hal itu. Jauh di lubuk hatinya Senna masih berharap gackt akan kembali ke stasiun ini dan dengan pundaknya yang kokoh merangkul Senna dan mengajaknya pulang bersama.
Tapi itu tak mungkin.
Senna menanti Gackt di stasiun itu.
Menanti…
Menanti…
Terus menanti…
Menanti selamanya walau penantiannya akan sia-sia.
-
Keesokan paginya seorang petugas kebersihan stasiun kereta api yang berusia cukup lanjut membersihkan sampah-sampah di sekitar stasiun. Tak sengaja olehnya tertendang sebuah kaleng minuman ringan.
Kaleng itu menggelinding dan menubruk pelan sorang wanita yang terduduk di lantai dengan lutut ditekuk dan kepala yang ditelungkup. Wanita itu mengangkat kepalanya dan menoleh sejenak ke arah petugas tua itu. Sejenak kemudian ia menelungkupkan kembali kepalanya.
“Ahh…lagi-lagi seorang gelandangan…” desah petugas kebersihan stasiun sambil beranjak pergi, kembali menunaikan tugasnya.
***
Thanks to Gackt Camui,
The most famous Japanese rocker in Japan
…or even in the world
You inspired me a lot, Sir!